Makalah Analisis Semiotik Puisi

Bagi anda yang sedang mendapat tugas dari guru ataupun dosen untuk menganalisis sebuah puisi, berikut saya berikan sebuah analisis semiotik puisi "Penerimaan" Karya Chairil Anwar.

*Full Download File Makalah Analisis Semiotik Puisi | DOWNLOAD


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat beserta hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Penulisan makalah ini dimaksudkan  memenuhi tugas mid semester Mata Kuliah Kajian Puisi.
Ucapan terima kasih yang tak terhingga penulis ucapkan kepada seluruh pihak yang membantu dalam penyelesaian pembuatan makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari dosen pembimbing yaitu Bapak Abdul Wahid B.S maupun dari para pembaca sekalian demi lebih baiknya penyusunan makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua sebagai pembaca.
Amin..


                                                                                    Purwokerto,     April 2012














BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Sastra suatu komunikasi seni yang hidup bersama bahasa. Tanpa bahasa sastra tidak mungkin ada, puisi adalah salah satu sastra yang menggunakan bahasa di dalam penyampaiannya. Melalui bahasa dia dapat mewujudkan dirinya berupa sastra lisan maupun sastra tertulis. Sastra cenderung menggunakan cara berbahasa yang berbeda, yang paling dominan adalah penggunaan bahasa konotatif, yakni bahasa yang mendukung emosi dan suasana hati, ungkapan dalam bahasa konotatif tidak hanya memiliki makna namun juga harus berisi simbol-simbol. Bahasa konotatif tidak hanya mementingkan arti tetapi mementingkan bobot dan gaya serta keluasan tafsiran. Klimaks dalam bahasa konotatif dapat dijumpai pada puisi. Setiap ungkapan di dalam hasil sastra, kata-kata tidak terikat oleh arti pusat saja, tetapi mempunyai arti yang imajinatif. Sebuah sajak adalah pernyataan singkat dari fikiran-fikiran yang besar. Dengan kesingkatannya ia lalu menjadi kecil  di tengah lingkupnya yang besar atau dengan istilah lain puisi menjadi kecil di tengah kebesarannya.
Pada waktu sekarang ini puisi kian diminati oleh masyarakat, baik para pelajar, mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya. Akan tetapi, puisi sukar dimengerti karena kompleksitas, pemadatan, kiasan-kiasan dan pemikirannya yang sukar. Oleh karena itu, perlu adanya kajian terhadap puisi. Kajian adalah memahami karya sastra dalam hal ini puisi dengan cara menilai, menganalisis dan menginterpretasi melalui berbagai pendekatan atau teori tertentu.
Semiotik seperti yang diungkapkan oleh Rachmat Djoko Pradopo yaitu bahwa bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti. Medium karya sastra bukanlah bahan yang bebas (netral) seperti bunyi pada seni msik ataupun warna pada lukisan. Warna cat sebelum digunakan dalam lukias masih bersifat netral, belum mempunyai arti apa-apa sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum dipergunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian masyarakat (bahasa) atau ditentukan oleh konvensi-konvensi masyarakat. Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat. Bahasa itu merupakan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian) masyarakat. Sistem ketandaan itu disebut dengan semiotik. Begitu pula ilmu yang mempelajari sistem tanda-tanda itu disebut semiotika (2009:121).
Sedangkan struktural dalam sajak atau karya sastra yang menganggap bahwa sebuah karya sastra adalah sebuah struktur. Struktur di sini dalam arti bahwa karya sastra itu merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang di antara unsur-unsurnya terjadi hubungan yang timbal balik, saling menentukan. Jadi, kesatuan unsur-unsur dalam sastra bukan hanya berupa kumpulan-kumpulan atau tumpukan hal-hal atau benda yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan hal-hal itu saling berkaitan, saling terikat dan saling bergantung (2009:118).

B.   Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah tentang “Analisis Struktural Semiotik” adalah untuk :
1.      Untuk memahami aspek kepuitisan dan makna sajak secara struktural dan semiotik terhadap puisi karya Chairil Anwar yang berjudul “Penerimaan”.
2.      Untuk mengetahui apa saja gaya bahasa, simbol, citraan, majas dan unsur-unsur kepuitisan yang terdapat dalam puisi “Penerimaan” karya Chairil Anwar.
















BAB II
PEMBAHASAN

A.   Analisis Struktur Kepuitisan
       1.  Pilihan Kata
Kata-kata yang terkandung di dalam sajak tentunya sangat berbeda dengan kata-kata yang berada di dalam teks dalam bentuk yang lain. Kata-kata di dalam sebuah sajak memiliki peran yang sangat penting karena perannya tidak hanya dituntut untuk dapat menyampaikan gagasan, tetapi juga harus memberikan imajinasi kepada pembaca agar imajinasinya sesuai dengan keinginan atau imajinasi sang penyair.
Pilihan kata yang terdapat pada puisi “Penerimaan” karya Chairil Anwar :

PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk ! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

(Deru campur Debu, 1958:36)

Pilihan kata yang digunakan Chairil Anwar sangat indah. Penggunaan kata yang mudah dipahami serta penyusunan kata yang sangat tepat sehingga membuat kata-kata dalam puisi ini terlihat indah.



2.    Bahasa Kiasan
Bahasa kiasan juga disebut sebagai bahasa konotatif atau bahasa yang tidak menunjukan arti sebenarnya. Bahasa kiasan banyak digunakan para penyair untuk mencapai aspek kepuitisan dalam karya-karyanya.
Bahasa kiasan yang terdapat dalam puisi “Penerimaan” karya Chairil Anwar ini adalah sebagai berikut :
a.    Repetisi
Repetisi adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberikan penekanan.
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk ! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Dalam puisi ini terjadi pengulangan kalimat kalau kau mau kuterima kembali,

b.    Simile atau Persamaan
       Simile atau Persamaan adalah sebuah perbandingan yang bersifat eksplisit, yaitu langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal lainnya.
..........
Bak kembang sari sudah terbagi
..........






c.    Personifikasi
Personifikasi adalah gaya bahasa kiasan yang menggambarkan sebuah benda mati yang seolah-olah hidup.
.........
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Sangat jelas sekali jika penyair manggambarkan cermin sebagai benda hidup karena aku merasa enggan berbagi dengan cermin. Padahal sudah jelas bahwa cermin adalah benda mati yang tidak akan memberikan respon apapun terhadap orang di sekitarnya.

3.    Citraan
Citraan adalah suatu ungkapan yang dapat menimbulkan kesan mental tertentu terhadap pembacanya. Unsur citraan dalam puisi merupakan unsur yang sangat penting, karena dengan adanya unsur citraan akan membuat pembaca seperti dihadapkan pada sesuatu yang nyata sehingga membantunya untuk menginterpretasikan dan menghayati puisi tersebut.
Terdapat tujuh jenis citraan yaitu :
1.      Citraan penglihatan
2.      Citraan pendengaran
3.      Citraan gerak
4.      Citraan perabaan
5.      Citraan penciuman
6.      Citraan pengecapan
7.      Citraan suhu
Untuk dapat mengetahui citraan yang terkandung dalam sebuah karya puisi, pembaca harus membaca dengan seksama puisi tersebut, memahami kata demi kata yang disajikan penyair. Hal ini dikarenakan penggunaan citraan dalam sebuah karya puisi melibatkan hampir semua anggota tubuh kita, baik itu tangan, kaki dan kepala.
Dalam sajak “Penerimaan” citraan yang digunakan oleh penyair adalah citraan penglihatan.
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
Cermin dapat dilihat dengan indera mata sehingga dalam puisi ini terdapat citraan penglihatan.
B.   Analisis Semiotik
Studi sastra yang bersifat semiotik adalah suatu usaha untuk menganalisis sebuah karya sastra  sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti. Dengan melihat melihat banyaknya variasi di dalam struktur dalam atau hubungan dalamnya, akan menghasilkan bermacam-macam arti. Analisis semiotik tidak dapat dipisahkan dari analisis struktural begitu juga sebaliknya.
Dalam sajak “Penerimaan” karya Chairil Anwar tersebut dapat dianalisis sebagai berikut :

Si aku masih memberikan harapan kepada wanita si aku apabila suatu saat ingin kembali, si aku akan menerimanya. Si aku akan menerima wanita itu dengan sepenuh hati. Si aku tidak akan mencari wanita lain sebagai pendamping hidupnya karena masih menunggu wanitanya untuk kembali.

Si aku masih sendiri dan akan setia menunggu meskipun Si aku mengetahui jika wanita yang dicinta dan ditunggunya itu sudah terjamah oleh pria lain atau dapat dikatakan sudah tidak perawan. Hal ini digambarkan dengan kalimat “kutahu kau bukan yang dulu lagi bak kembang sari sudah terbagi”. Kalimat ini menggunakan majas metafora dengan menggambarkan wanita yang sudah tidak perawan dengan kembang sari yang sudah terbagi.

Si aku masih memberi harapan kepada wanita si aku bila ingin kembali tidak usah merasa malu untuk menemui aku. Tidak usah ada rasa takut untuk menemui si aku. Si aku akan menerima wanita si aku dengan apa adanya. Jangan pernah mendua lagi, wanita si aku hanya untuk si aku seorang. Bahkan dengan cermin pun si aku enggan berbagi. Digambarkan dalam bait ke-5 yang berbunyi “sedangkan dengan cermin aku enggan berbagi”. Dalam kalimat ini penyair menggunakan citraan penglihatan.





BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam puisi “Penerimaan” karya Chairil Anwar dianalisis dengan kajian struktural semiotik. Terdapat gaya bahasa yang digunakan yaitu :
1.    Pilihan Kata
Kata-kata yang terkandung di dalam sajak tentunya sangat berbeda dengan kata-kata yang berada di dalam teks dalam bentuk yang lain. Kata-kata di dalam sebuah sajak memiliki peran yang sangat penting karena perannya tidak hanya dituntut untuk dapat menyampaikan gagasan, tetapi juga harus memberikan imajinasi kepada pembaca agar imajinasinya sesuai dengan keinginan atau imajinasi sang penyair.
2.    Bahasa Kiasan
Bahasa kiasan juga disebut sebagai bahasa konotatif atau bahasa yang tidak menunjukan arti sebenarnya. Bahasa kiasan banyak digunakan para penyair untuk mencapai aspek kepuitisan dalam karya-karyanya.
a.    Repetisi
Repetisi adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberikan penekanan.
b.    Simile atau Persamaan
       Simile atau Persamaan adalah sebuah perbandingan yang bersifat eksplisit, yaitu langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal lainnya.
c.    Personifikasi
Personifikasi adalah gaya bahasa kiasan yang menggambarkan sebuah benda mati yang seolah-olah hidup.
3.    Citraan
Citraan adalah suatu ungkapan yang dapat menimbulkan kesan mental tertentu terhadap pembacanya. Unsur citraan dalam puisi merupakan unsur yang sangat penting, karena dengan adanya unsur citraan akan membuat pembaca seperti dihadapkan pada sesuatu yang nyata sehingga membantunya untuk menginterpretasikan dan menghayati puisi tersebut.
Terdapat tujuh jenis citraan yaitu :
8.      Citraan penglihatan
9.      Citraan pendengaran
10.  Citraan gerak
11.  Citraan perabaan
12.  Citraan penciuman
13.  Citraan pengecapan
14.  Citraan suhu
Untuk dapat mengetahui citraan yang terkandung dalam sebuah karya puisi, pembaca harus membaca dengan seksama puisi tersebut, memahami kata demi kata yang disajikan penyair. Hal ini dikarenakan penggunaan citraan dalam sebuah karya puisi melibatkan hampir semua anggota tubuh kita, baik itu tangan, kaki dan kepala.

B.   Penutup
Demikian makalah dari penulis yang diberi judul “Analisis Struktural Semiotik” guna memenuhi tugas MID Semester tahun pelajaran 2011/2012 di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Penulis sadar masih banyak kekurangan dari makalah ini, maka penulis mengharap saran dan kritik dari para pembaca sekalian. Semoga makalah ini berguna bagi pembaca sekalian.




DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Chairil. 2006.  Deru Campur Debu. Jakarta : Dian Rakyat.
Wachid BS, Abdul. 2010. Analisis Struktural Semiotik. Yogyakarta : Cinta Buku.
Noor, Redyanto. 2010. Pengantar Pengkajian Sastra. Semarang : Fasindo.



Kalo sudah baca jangan lupa berkomentar dan klik tombol share di bawah ini :

Tulis email anda untuk berlangganan artikel terbaru melalui email secara GRATIS di Catatan Aphe

Ditulis Oleh : Alfin Fauzan Jam : 13.45 Kategori:

2 Comments
Tweets
Comments

2 comments :

  1. kebetulan sekali saya lagi cari tugas ini mas makasih banget. aku tunggu info yang lain

    BalasHapus
  2. kebetulan itu juga tugas kuliahku mbaak :)) makasih kunjungannya

    BalasHapus

 

- Site Info -

- Arsip Blog -